Mbah Menak Anggrung, Ulama Penyebar Islam di Bojonegoro

817

Menelusuri jejak-jejak perkembangan agama Islam di Kabupaten Bojonegoro tidaklah mudah. Tak banyak peninggalan para penyebar Islam di wilayah yang dulu masuk Kerajaan Jipang ini. Islamisasi di Bojonegoro  dimulai di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan.  Islamisasi itu tak lepas dari jasa Mbah Hasyim dan Mbah Sabil—kemudian hari keduanya disebut Mbah Menak Anggrung. Tak banyak jejak yang tersisa dari kiprah dua ulama kharismatik tersebut. Namun, masih beberapa peninggalannya yang masih dapat ditemui.

Diantaranya adalah sebuah bangunan masjid, dan makam kedua tokoh tersebut  yang lokasinya berada di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan. Minimnya sumber referensi juga membuat penelusuran kiprah dua tokoh itu kurang bisa dilakukan secara maksimal.

Meski demikian, pengakuan umat Islam berbagai daerah atas kiprah dua ulama itu hingga saat ini masih berlangsung. Hal itu bisa dibuktikan dengan masih banyaknya warga setempat dan berbagai daerah yang berkunjung ziarah pada makam dua tokoh tersebut.

Setiap tahun, hingga saat ini digelar haul (peringatan kematian) atas keduanya yang dilakukan setiap 10 September tahun Masehi atau 6 Muharram pada setiap penanggalan Hijriyah.

Saya beruntung masih bisa bertemu dengan salah satu keturunan dari dua tokoh penganjur Islam di Padangan khususnya dan Kabupaten Bojonegoro umumnya. Adalah KH Khanifuddin, satu dari keturuan ke- 10 Mbah Sabil.

Menurut dia, jika dirunut ke atas, Mbah Sabil masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Mataram. Nama asli Mbah Sabil adalah Pangeran Adiningrat Dandang Kusumo. Untuk menghilangkan jejak, Pangeran Adiningrat kemudian mengganti namanya menjadi Mbah Sabil.

Bangsawan dari Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta  ini, sengaja keluar keraton sekitar abad  ke-16 karena dikejar-kejar pemertintah Hindia Belanda. Dari ulama Mbah Sabil inilah, lahir banyak tokoh dan ulama yang menyebar di berbagia daerah. Beberapa keturunan Mbah Sabil di antaranya adalah Nyai Samboe Lasem (istri Muhammad Syihabudin, seorang tokoh pengajur Islam yang makamnya di belakang Masjid Lasem, Rembang, Jateng– kemudian hari menurunkan Pengasuh Ponpes As-Syidiqqiyah Jember, KH Ahmad Sidiq yang menjabat Rois Amm Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU).

Putri Mbah Sabil lainnya adalah Nyai Moyo Merti –diyakini menikah dengan Mbah Abdul Jabbar di Nglirip, Tuban— Mbah Kyai Sholeh Tsani —tokoh Pesantren Qomarudin, Sampurnan, Gresik. Selain itu juga, Mbah Kyai Ahmad Rowobayan mursyid Thoreqot Naqsabandiyah yang sepanjang hidupnya menetap hingga meninggal di Rowobayan, Padangan, Bojonegoro.

Mbah Sabil melarikan diri dari keraton kerena tidak suka dengan sikap kolonial Belanda yang menjajah tanah kelahirannya. Dari Mataram, Mbah Sabil melakukan perjalanan dengan menulusuri sungai Bengawan Solo hingga sampai di Desa Padangan.

“Rencananya beliau hendak mondok di Ampel Denta, Surabaya,” ungkap KH Khanifuddin saat ditemui di kediaamannya.

Namun, setelah bertemu dengan Mbah Hasyim, akhirnya Mbah Sabil bersedia membantunya mengajarkan agama Islam bagi masyarakat sekitar dengan mengurungkan niatnya berguru ke Perdikan Ampel Denta, Surabaya.

Sebutan Menak Anggrung

Untuk syair Islam, keduanya kemudian membangun langgar (musala kecil) yang kemudian hari berkembang menjadi masjid sekaligus pesantren. Lokasinya, diperkirakan berada di Desa Kuncen sebelah utara, kira-kira sekarang kearah timur laut dari tugu Pahlawan.

Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah santri dan berasal dari daerah mana saja. Namun dimungkinkan, dari kawasan pedukuhan sekitar Kuncen. Soal riwayat Mbah Hasyim, tidak banyak diketahui karena minimnya sumber referensi yang ada. Tetapi, disebutkan Mbah Hasyim sudah menjadi tokoh agama saat Mbah Sabil datang di Padangan.

Bahkan saat itu, Mbah Hasyim sudah menjabat Ketib dan dikenal dengan nama Ketib Hasyim (juru tulis atau sekretaris). Dan setelah kedatangan Mbah Sabil, Mbah Hasyim dikenal juga sebagai merbot (orang yang mengurus dan memelihara) masjidnya Mbah Sabil. “Jadi tidak ada tahu siapa beliau (Mbah Hasyim) sebenarnya,” tambahnya.

Termasuk, keturunannya hingga saat ini. Diakuinya, di kawasan Padangan dan sekitarnya ada dua tokoh yang memiliki nama yang sama. Yakni,  Mbah Hasyim, tetapi keduanya adalah pribadi yang berbeda. Pertama adalah Mbah Hasyim yang hidup sezaman dengan Mbah Sabil. Dan Mbah Hasyim lainnya, dikenal Hasyim ‘Tasrifan Shorop Padangan’ atau dengan kata lain penulis kitab tata bahasa dari Padangan.

Sementara makam Mbah Hasyim Shorof berada di sebuah pemakaman umum kawasan barat kota Padangan. “Ini dua pribadi yang berbeda dan pada masa yang berlainan,” jelasnya.

Untuk Mbah Hasyim yang sezaman dengan Mbah Sabil, makammnya satu cungkup dengan Mbah Sabil. Di dalam cungkup Makam Menak Anggrung itu terdapat dua makam. Makam sebelah barat adalah tempat bersemayamnya jasad Mbah Sabil. Sedangkan, sebelah timur adalah makam Mbah Hasyim.

Dalam buku ‘Sejarah Kabupaten Bojonegoro Menyingkap Kehidupan dari Masa ke Masa’ terbitan Pemkab setempat disebutkan, agam Islam berkembang di bumi Bojonegoro sejak masa Sultan Trenggono berkuasa atas daerah Demak.

Bojonegoro saat itu bernama Jipang adalah masuk wilayah Kerajaan Demak. Pusat pengembangan agama Islam pada abad ke-16 dalam masa itu untuk daerah Jipang berada di Kota Padangan. Karena Padangan masa itu merupakan Ibukota Kabupaten Jipang. Dan yang menjadi ulama besar saat itu adalah Kyai Hasyim, sekaligus penyebar agama Islam pertama di Jipang.

Sekarang nama-nama yang terkenal adalah “Mbah Sinare.” Sebuah makam yang berada di dalam kota Padangan. Di komplek makam Mbah Sinare inilah menjadi pusat penyebaran Islam di kawasan timur dan selatan untuk wilayah Jipang. Kyai Hasyim juga dikenal dalam usahanya menyebarkan agama Islam.

Kegigihannya karena saat itu kota Padangan sudah banyak dihuni pedagang China yang agamanya Khong Hu Cu dan Belanda yang agamanya Nasrani. Namun demikinan,  rakyat Jipang masih banyak yang memeluk agama Islam.

Tidak ada yang mengetahui secara persis, kapan meninggalnya dua ulama kharismatik tersebut. Hanya setelah tutup usia, Mbah Sabil dimakamkan disebelah masjid. Urusan Pondok Pesantren menjadi tanggungjawab Mbah Hasyim. Tidak lama setelah itu Mbah Hasyim pun menghadap Sang Kholiq. Jenazahnya dimakamkan disamping rekan
seperjuangannya.

Sepeninggal keduanya, masjid dan pesantren menjadi sepi. Oleh salah satu cucu Mbah Sabil, Mbah Kyai Abdurrohman Klothok, masjid  kemudian dipindahkan ke Dukuh Klothok, Desa Banjarjo– masih dalam wilayah Kecamatan Padangan.

Hal ini dikarenakan, masjid tersebut tidak dirawat dengan baik oleh masyarakat sekitar. Masjid berarsitektur Jawa itu tak begitu besar. Luasnya sekitar 20 x 20 meter. Tidak diketahui secara rinci, berapa kali masjid itu dipugar. Namun, dari data yang ada, masjid tersebut dipugar pada Oktober 1989 dan 9 Agustus 1993 silam.

Saat ini, makam kedua ulama tersebut berada di sebelah barat Langgar Pahlawan, Desa Kuncen. Namun sesuai riwayat, makam Mbah Sabil dan Mbah Hasyim telah perpindah hingga tiga kali sejak beliau dimakamkan pertama kali di sebelah masjidnya.

Makam kedua penganjur Islam ini dinamakan “Sarean Menak Anggrung” sebab tempatnya anggrung-anggrung (menjulang tinggi) di tepi jurang Bengawan Solo. Barangkali berangkat dari peristiwa inilah, Mbah Sabil dan Mbah Hasyim dikenal sebagai Mbah Menak Anggrung.

“Dan yang menyebut Makam Menak Anggrung adalah Mbah Kamaludin salah satu santri kesayangannya,” pungkas KH Khanifuddin yang juga menjabat Pengurus Mustasyar NU Padangan ini.

________

*) Penulis adalah jurnalis di Bojonegoro. Menyukai situs-situs kuno dan kajian sejarah Islam.

SHARE