Bodjonegoro Tahun 1948 – 1949

924

Sejarah Bodjonegoro adalah bukan saja sejarah tentang kemiskinan pada era 1900-1945 sebagaimana dalam buku CLM Penders. Juga tidak saja soal pasukan Aru Palaka yang didatangkan Belanda dari Bugis untuk menumpas para pengikut Trunojoyo di Bodjonegoro. Tetapi Bodjonegoro juga sejarah kegigihan militer-rakyat dalam perang gerilya melawan agresi militer Belanda 1948.

Pada 19 Desember 1948, Belanda mencoba masuk lagi ke Indonesia yang dikenal dengan agresi militer II. Lalu selang tiga hari, yakni pada 22 Desember  1948 dikeluarkanlah Maklumat No 2/MBKD berisi pembentukan pemerintah darurat militer. Kolonel Sungkono adalah Gubernur Militer Jawa Timur. Letkol Umar Joy sebagai komandan STM, mengepalai pemerintah militer karesidenan Bodjonegoro. Sedang untuk wilayah Bodjonegoro dijabat Komandan Brigade I Letkol Sudirman.

Gempuran tentara Belanda yang sangat dahsyat dari udara dan darat membuat Bodjonegoro berhasil diduduki penjajah. Peralatan tempur yang lebih canggih membuat tentara di Bodjonegoro kocar-kacir. Dan pada 16 Januari 1949 Belanda berhasil menduduki Bodjonegoro. Satu-satunya cara melawan adalah dengan melancarkan perang gerilya.

Residen Bodjonegoro Tandiono Manu mengungsi ke luar kota dan menjalankan pemerintahan dari luar, di kawasan hutan lereng Gunung Pandan. Demikian juga Bupati Bodjonegoro Surowijono yang masuk hutan untuk menghindari penangkapan. Surowijono mengalami ujian yang cukup berat. Istri dan anak-anaknya berhasil ditangkap Belanda dan tidak pernah ada kabarnya lagi.

Apalagi, seorang pejabat Residen Bodjonegoro bernama Gondosudignyo berhasil tertangkap saat melarikan diri ke Blitar. Dia tak berani melawan menolak Belanda yang menjadikannya residen boneka. Perpecahan pejabat hingga tingkat desa pun tak bisa terhindarkan.

Pj Gubernur Jatim Samadikun dalam pelariannya ke hutan bersama sedikit pengikut berjalan dari Surabaya melewati hutan-hutan untuk menghindari tentara Belanda. Dia mencoba mencari informasi dimana keberadaan para pemimpiin daerah di Jawa Timur yang semuanya melarikan diri masuk hutan.

Hingga akhirnya Samadikun bertemu Surowijono  di desa lereng Gunung Pandan. Mereka bertemu dengan penuh haru. Kedua rombongan yang bertemu akhirnya menginap di sebuah rumah kayu jati bertingkat dua. Pj Gubernur dan Bupati menempati lantai atas untuk melindungi jika ada serangan mendadak dari Belanda. Para staf tidur di lantai bawah.

Keesokan harinya, dua pejabat ini berjalan guna mencari keberadaan Residen Bodjonegoro Tandiono Manu. Perjalanan dilakukan penuh kehati-hatian untuk menghindari serangan Belanda. Setelah lama menelusuri lereng Gunung Pandan, akhirnya Residen Bodjonegoro berhasil ditemukan. Pertemuan tiga pejabat itu terjadi di Desa Deling (Kecamatan Sekar).  Di desa itulah kemudian dilakukan sebuah konferensi untuk membahas kondisi terkini.

Dari catatan yang ada, konferensi yang sengaja dilakukan di tanah lapang dengan penjagaan ketat itu, dihadiri Samadikun, Tandiono Manu, dan Surowijono. Selain mereka juga hadir Pimpinan Militer Letkol Sudirman, Mayor Basuki Rakhmat seorang komandan Batalion dari Brigade Ronggolawe.  Basuki Rakhmat di kemudian hari berpangkat jenderal dan pernah menduduki jabatan Menteri Dalam Negeri.

Selama para pejabat sipil mengungsi di hutan, pemerintah darurat militer terus berjuang mengusir Belanda. Pada Maret 1949 pemerintah militer sudah terbentuk di seluruh wilayah kecamatan Bodjonegoro. Meski dengan persenjataan yang kalah canggih, para militer pejuang tak kenal kata menyerah.

Untuk pembekalan perang gerilya, Komandan STM/Pemerintah Militer Karesidenan Bodjonegoro pada 9 Juni 1949 mengeluarkan “Peraturan Fonds Perang” yang diantaranya berisi (pasal 3) sebagai pedoman guna menentukan jumlah tersebut, ditetapkan lima puluh rupiah untuk tiap-tiap keluarga sebulannya. Peraturan itu hanya ada di Bodjonegoro dan ditandatangai oleh Letkol Umar Joy.

Pada masa itu, rakyat Bojonegoro dalam kondisi miskin. Tapi hal itu tak menyurutkan niat membantu para pejuang militer. Warga yang tak memiliki uang Rp 50 tetap memberikan  sumbangan perang yakni dengan memberikan hasil bumi. Kebersamaan untuk mengusir penjajah ditunjukkan dengan memberikan harta benda. Sedang pemuda-pemuda ikut bergerilya.

Dalam peperangan itu beberapa tentara pejuang gugur. Diantaranya Letnan I RM Soejitno yang gugur dalam pertempuran di Desa Mulyoagung. Juga Letnan Muda Suwolo yang gugur dalam pertempuran di Dander. Dan pertempuran gerilya terus terjadi di wilayah Kecamatan Temayang.

Sepenggal kisah Bodjonegoro tempo doeloe ini menunjukkan betapa gigih masyarakat Bojonegoro mempertahankan wilayahnya. Banyak sejarah yang perlu diungkap untuk memberi pengayaan pada sejarah Bojonegoro. Seperti keberadaan Brigade TRIP di Bojonegoro dan lainnya.

Perang gerilya akhirnya berakhir dengan gencatan senjata pada 11 Agustus 1949 yang dilanjutkan dengan Konferensi Meja Bundar dan pendirian negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Mari mencintai sejarah daerah. Mari belajar dari Bodjonegoro tempo doeloe. Salam!

_______________

*) Penulis menyukai membaca buku sejarah. Tulisan ini pernah tayang di blokBojonegoro. 

*) Ilustrasi di atas adalah lukisan berjudul ‘Persiapan Gerilja’ (minyak pada kanvas, berukuran 178 x 197cm) karya Dullah, salah satu maestro lukis realis Indonesia. Dullah lahir di Solo pada tahun 1911 dan wafat pada tahun 1996.

SHARE