Nriman, Loman, Olehan

223

Nriman, loman, olehan. Itulah tiga hal yang dipegang oleh Mugito Citrapati dalam mengelola Jolodoro. Di daerah sekitar ladang minyak Banyuurip, Blok Cepu, Jolodoro sudah akrab bagi masyarakat.

Ya, jolodoro adalah “odong-odong”, yakni kendaraan modifikasi seperti kereta yang bisa mengangkut banyak orang. Jolodoro adalah nama kereta itu. “Sepanjang perjalanan bisa menikmati industri pertanian, peternakan n migas lapangan Banyuurip,” kata Mugito.

Filosofi yang dipegang terbilang unik. Yakni nriman, loman, dan olehan. Nriman bisa dimaknai selalu bersyukur. Loman berarti selalu berbagi, dan olehan bermakna jika nriman dan loman selalu dilakukan pasti akan mendapatkan apa yang diharapkan.

Jolodoro mulai beroperasi pada Ramadhan lalu. Saat ngabuburit Jolodoro akan menawarkan diri menjadi kendaraan tumpangan anak-anak kecil bersama ibunya untuk keliling. “Awalnya tak ada yang mau naik karena keretanya aneh… takut. Ada juga yang takut penculikan anak.┬áLama kelamaan pada penasaran dan pengen mencoba naik dan ketagihan sampai sekarang.

Bahkan selain untuk wisata migas Banyuurip, Jolodoro sekarang mulai juga untuk alat transportasi acara nikahan dan sunatan,” terangnya. Mugito juga seorang jurnalis sejak era 1990 an.

Jolodoro saat ini mengambil rute Gayam – Mojodelik – Bonorejo – Brabowan – Gayam. Uniknya, sepanjang perjalanan penumpang disuguhi audio plus TV, dan sesekali dikasih bacaaan tabloid Suara Banyuurip. “Intinya kita ingin mengedukasi masyarakat tentang migas salah satunya melalui sentuhan pariwisata,” terangnya.

Mugito memang sosok yang tekun dan penuh semangat. Sampai hari ini ia sendiri yang kerap menjadi sopir Jolodoro. Guna mengembangkan Jolodoro, kini juga ada doorprize bagi penumpang berupa sabun cuci, buku tulis, minyak goreng, dan lainnya. Nah, kreatif banget kan?

SHARE